Nani Wartabone, (lahir 30 Januari 1907, meninggal 3 Januari 1986), yang dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional Indonesia” pada tahun 2003, adalah putra Gorontalo dan tokoh perjuangan dari provinsi yang terletak di Sulawesi Utara itu.

Perjuangannya dimulai ketika ia mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun kemudian, ia menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo. Tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ia bersama masyarakat setempat terlebih dulu memproklamasikan kemerdekaan Gorontalo, yaitu pada tanggal 23 Januari 1942.

Setelah tentara Sekutu dikalahkan Jepang pada Perang Asia-Pasifik, Belanda merencanakan pembumihangusan Gorontalo yang dimulai pada 28 Desember 1941 dengan mulai membakar gudang-gudang kopra dan minyak di Pabean dan Talumolo. Memimpin perlawanan rakyat, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo mencoba menghalanginya dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo.

Pada 23 Januari, dimulai dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo bergerak mengepung kota. Pukul lima subuh Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah.

Proklamasi kemerdekaan

Selesai penangkapan, Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu “Indonesia Raya” di halaman Kantor Pos Gorontalo. Peristiwa itu berlangsung pada pukul 10, dan NaniWartabone sebagai inspektur upacaranya. Di hadapan massa rakyat, ia berpidato: “Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban….dst.”Sore harinya, Nani Wartabone memimpin rapatpembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat(BPR) dan Nani dipilih sebagai ketuanya. Empat hari kemudian, Nani Wartabone memobilisasi rakyat dalam sebuah rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo. Tujuannya adalah mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu dengan risiko apapun.

Jepang menguasai Gorontalo

Sebulan sesudah “Proklamasi Kemerdekaan Nasional” di Gorontalo, tentara Jepang mulai mendarat. Pada 26 Februari sebuah kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Nani Wartabone menyambut baik bala tentara Jepang ini dengan harapan kehadiran mereka akan menolong PPPG.

Ternyata sebaliknya, Jepang justru melarang pengibaran bendera Merah Putih dan menuntut warga Gorontalo bersedia tunduk pada Jepang. Nani Wartabone menolak permintaan ini. Namun karena tidak kuasa melawan Jepang, ia kemudian memutuskan meninggalkan kota Gorontalo dan kembali ke kampung kelahirannya Suwawa, tanpa ada penyerahan kedaulatan.

Di Suwawa Nani Wartabone mulai hidup sederhana dengan bertani. Rakyat yang berpihak kepada Nani Wartabone akhirnya melakukan mogok massal sehingga Gorontalo bagaikan kota mati. Melihat situasi ini, Jepang melalui kaki tangannya melancarkan fitnah, bahwa Nani Wartabone sedang menghasut rakyat berontak kepada Jepang. Akibat fitnah itu, Nani Wartabone akhirnya ditangkap pada 30 Desember 1943 dan dibawa ke Manado.

Di sini, Nani Wartabone mengalami berbagai siksaan. Salah satu siksaan Jepang yang masih melekat dalam ingatan masyarakat Gorontalo hingga saat ini adalah, ketikaNani Wartabone selama sehari semalam ditanam seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala di pantai di belakang Kantor Gubernur Sulawesi Utara sekarang. Hampir sehari kepala Nani Wartabone dimainkan ombak dan butir-butir pasir. Nani Wartabone baru dilepaskan Jepang pada 6 Juni 1945, saat tanda-tanda kekalahan Jepang dari Sekutu mulai tampak.

Jepang Kalah

Setelah menyerah kepada Sekutu, Jepang masih tetap menghormati Nani Wartabone sebagai pemimpin rakyat Gorontalo. Ini terbukti dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari Jepang kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sejak hari itu Sang SakaMerah Putih kembali berkibar di bumi Gorontalo setelah diturunkan Jepang sejak 6 Juni 1942.

Anehnya, setelah penyerahan kekuasaan itu, Nani Wartabone dan rakyatGorontalo tidak mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta keesokan harinya. Mereka baru mengetahuinya pada 28 Agustus 1945.
monumen-nani-wartabone.jpg

Monumen Nani Wartabone di Gorontalo (foto diambil dari website ini)
Untuk memperkuat pemerintahan nasional di Gorontalo yang baru saja diambil alih dari tangan Jepang itu, Nani Wartabone merekrut 500 pemuda untuk dijadikan pasukan keamanan dan pertahanan. Mereka dibekalidengan senjata hasil rampasan dari Jepang dan Belanda. Pasukan ini dilatih sendiri oleh Nani Wartabone,s edangkan lokasi latihannya dipusatkan di Tabuliti, Suwawa. Wilayah ini sangat strategis, berada di atas sebuah bukit yang dilingkari oleh beberapa bukit kecil, dan bisa memantau seluruh kota Gorontalo.

Ditempat ini pula, raja-raja Gorontalo zaman dahulu membangun benteng-benteng pertahanan mereka. Setelah menerima berita proklamasi di Jakarta, padatanggal 1 September 1945 Nani Wartabone membentuk Dewan Nasional di Gorontalo sebagai badan legislatif untuk mendampingi kepala pemerintahan. Dewan yang beranggotakan 17 orang ini terdiri dari para ulama, tokoh masyarakat dan ketua parpol. G. Maengkom yang pernah menjadi Menteri Kehakiman Rl dan Muhammad Ali yang pernah menjadi Kepala Bea Cukai di Tanjung Priok adalah dua dari 17 orang anggota dewan tersebut.

Ditangkap Belanda

Sayangnya, keadaan ini tidak berlangsung lama karena Sekutu masuk. Bagi Belanda yang memboncengi Sekutu ketika itu, Nani Wartabone adalah ancaman serius bagi niat mereka untuk kembali menjajah Indonesia, khususnya Gorontalo. Mereka berpura-pura mengundang Nani Wartabone berunding pada 30 November 1945 di sebuah kapal perang Sekutu yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, lalu Belanda menawannya.

Nani Wartabone langsung dibawa ke Manado. Di hadapan Pengadilan Militer Belanda di Manado, NaniWartabone dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dengan tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942. Dari penjara di Manado, Nani Wartabone dibawa ke Morotai yang kemudian dipindahkah ke penjara Cipinang di Jakarta pada bulan Desember 1946. Hanya sebelas hari di Cipinang, Nani kembali dibawa ke penjara di Morotai. Di sini ia kembali mengalami siksaan fisik yang sangat kejam dari tentara pendudukan Belanda. Dari Morotai, ia dikembalikan lagi ke Cipinang, sampai dibebaskan pada tanggal 23 Januari 1949, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia.

Kembali ke Gorontalo

Tanggal 2 Februari 1950, Nani Wartabone kembali menginjakkan kakinya di Gorontalo, negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat dan DewanNasional yang berjuang bersamanya menyambut kehadirannya dengan perasaan gembira bercampur haru dan tangis. Kapal Bateku yang membawa Nani Wartabone disambut di tengah laut oleh rakyat Gorontalo. Nani Wartabone kemudian ditandu dari pelabuhan dibawa keliling kota dengan semangat patriotisme. Rakyat kemudian membaiatnya untuk menjadi kepala pemerintahan kembali.

Namun Nani Wartabone menentang bentuk pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS)yang ada pada saat itu. Gorontalo sendiri berada dalam Negara Indonesia Timur. Menurutnya, RIS hanyalah pemerintahan boneka yang diinginkan Belanda agar Indonesia tetap terpecah dan mudah dikuasai lagi.

Nani Wartabone kembali menggerakkan rakyat Gorontalo dalam sebuah rapat raksasa pada tanggal 6 April 1950.Tujuan rapat raksasa ini adalah menolak RIS dan bergabung dengan NKRI. Peristiwa ini menandakan, bahwaGorontalo adalah wilayah Indonesia pertama yang menyatakan menolak RIS.

Pada periode ini hingga tahun 1953, Nani Wartabone dipercaya mengemban beberapa jabatan penting, diantaranya kepala pemerintahan di Gorontalo, Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas itu, Nani Wartabone memilih tinggal di desanya, Suwawa. Di sini ia kembali turun ke sawah dan ladang dan memelihara ternak layaknya petani biasa di daerah terpencil.

Melawan Permesta

Ketenangan hidup Nani Wartabone sebagai petani kembali terusik, ketika PRRI/PERMESTA mengambil alih kekuasaan di Gorontalo setelah Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Jiwa patriotisme Nani Wartabone kembali bergejolak. Ia kembali memimpin massa rakyat dan pemuda untuk merebut kembali kekuasaan PRRI/PERMESTA di Gorontalo dan mengembalikannya ke pemerintahan pusat di Jakarta.

Sayangnya, pasukan Nani Wartabone masih kalah kuat persenjataanya dengan pasukan pemberontak. Oleh karena itu, ia bersama keluarga dan pasukannya terpaksa masuk keluar hutan sekedar menghindar dari sergapan tentara pemberontak. Saat bergerilya inilah, pasukan Nani Wartabone digelari “Pasukan Rimba”.

Berbagai cara dilakukan Nani Wartabone agar bisa mendapat bantuan senjata dan pasukan dari Pusat. Baru pada bulan Ramadhan 1958 datang bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa.

Berkat bantuan kedua pasukan dari JawaTimur dan Sulawesi Selatan inilah, Nani Wartabone berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.

Setelah PRRI/PERMESTA dikalahkan di Gorontalo itu, Nani Wartabone kembali dipercaya memangku jabatan-jabatan penting. Misalnya, sebagai Residen Sulawesi Utara di Gorontalo, lalu anggota DPRGR sebagai utusan golongan tani. Setelah peristiwa G30S tahun 1965, Nani Wartabone kembali berdiri di barisan depan rakyat Gorontalo guna mengikis habis akar-akar komunisme di wilayah itu.

Nani Wartabone yang pernah menjadi anggota MPRS Rl, anggota Dewan Perancang Nasional dan anggota DPA itu, akhirnya menutup mata bersamaan dengan berkumandangnya azan shalat Jumat pada tanggal 3 Januari 1986, sebagai seorang petani di desa terpencil, Suwawa, Gorontalo.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nani Wartabone melalui ahli warisnya yang diwakili oleh salah seorang anak laki-lakinya, Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara, pada tanggal 7November 2003. Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003. Untuk mengenang perjuangannya di kota Gorontalo dibangun Tugu Nani Wartabone untuk mengingatkan masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah 23 Januari 1942 itu.

Telah kita ketahui bersama bahwa nabi Muhammad SAW memiliki sifat yg sangat mulia. Dan beliau adalah pribadi yang sangat suka menolong orang lain, nah pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan bagaimana kemuliaan nabi muhammad SAW ketika ia berhadapan dengan seorang pengemis yahudi buta yg selalu menghinanya.

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta ,hari demi ia lalui dengan selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah SAW tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”,tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. ”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Nah inilah kisah itu sobat, dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmah, bahwa setiap perbuatan yg kurang menyenangkan yg kita dapatkan dari orang lain bukan menjadi alasan bagi kita untuk memusuhi orang tersebut, Allah SWT berfirman, secara singkatnya begini, berdakwalah kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yg baik dan lawanlah mereka yg tidak menyukaimu dengan cara yg baik pula.

Mari Bershalawat bersama … Allahumma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad …

Di posting dari :

http://www.emotivasi.com/


Suatu hari seorang profesor menyewa sebuah sampan untuk membuat kajian di tengah lautan. Pendayung itu merupakan lelaki tua yang sangat pendiam. Profesor sengaja mengupah lelaki tua itu kerana dia tidak mahu orang yang menemaninya banyak menyoal tentang apa yang dia lakukan.

Dengan tekun Profesor itu melakukan tugasnya tanpa menghiraukan pendayung sampan. Dia mengambil air laut dan diisi kedalam tabung uji, digoncang-goncang, kemudian mencatat sesuatu di dalam buku catatan dibawanya. Berjam-jam lamanya Profesor itu melakukan kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan mendongak ke langit, memandang pada awan yang mula berarak kelabu. Dalam hati dia berkata “Hmm..tak lama hujan lebat akan turun..”

“OK semua sudah siap mari kita balik.” Lantas pendayung itu memusingkan sampannya dan mula mendayung ke arah pantai. Dalam perjalanan itu baru Profesor itu membuka mulut menegur pendayung sampan.

“Dah lama kamu mendayung sampan?” Tanya Profesor kepada pendayung sampan. “Hmm..hampir seumur hidupku,” jawab si pendayung ringkas.

“Seumur hidup kamu? Jadi kamu tidak tahu apa-apa selain mendayung sampan?” tanya Profesor itu lagi.

“Ya..”jawab pendayung sampan dengan ringkas.

Profesor belum berpuas hati dengan jawapan pendayung tua itu. “Kamu tahu Geografi?” Si pendayung menggeleng..

“Kalau begitu kamu hilang 25% dari usia hidup kamu.”
“Kamu tahu Biologi?”tanya Profesor itu lagi. Pendayung sampan itu menggeleng lagi.

“Kasihan kamu telah kehilangan 50% dari usia kamu.”

“Kamu tahu Fizik?” Profesor itu masih bertanya. Seperti tadi pendayung sampan itu hanya menggeleng.

“Sungguh kasihan kalau begitu kamu telah kehilangan 75% usia kamu.Malang sungguh nasib kamu semuanya tidak tahu. Seluruh hidup kamu hanya dihabiskan dengan sampan,tak ada gunanya lagi,” Profesor itu mengejek dan berkata dengan angkuh setelah merasakan dirinya yang terhebat. Pendayung sampan hanya mendiamkan diri.

Selang beberapa minit kemudian hujan turun dengan lebat, tiba-tiba ombak besar datang melanda. Sampan yang mereka naiki terbalik. Profesor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung itu bertanya, “Kamu tahu berenang?” Profesor hanya menggeleng.

“Sayang sekali kamu telah kehilangan 100% nyawa kamu.” Kata pendayung itu sambil berenang ke pantai meninggalkan Profesor yang angkuh tadi.

Kesehatan

Posted: Mei 6, 2011 in Uncategorized

A.    ASMA

Asma adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai oleh sesak napas disertai bunyi ngikngik (mengi) dan / atau batuk persisten dimana derajat keparahan setiap orang berbeda-beda. Pada saat serangan yang terjadi adalah menyempitnya jalan napas kita akibat dari pengerutan bronkus yang menyebabkan udara sulit keluar masuk paru. Penyebab dari asma belum sepenuhnya dimengerti. Namun faktor risiko yang dapat mencetuskan timbulnya asma adalah, alergen (zat yang menyebakan alergi),infeksi, cuaca, kegiatan jasmani dan iritan. Asma tidak dapat disembuhkan, namun dapat di kontrol dengan tata laksana yang tepat. Penyebab dari asma belum sepenuhnya dimengerti , beberapa zat atau bahan yang dapat mencetuskan timbulnya serangan adalah;

v  Benda-benda dalam ruangan (tungau debu rumah dalam kasur, karpet, dan perabotan kotor dan bulu binatang)

v  Benda-benda di luar ruangan (polusi, asap buangan pabrik)

v  Asap rokok

v  Refluks gastroesofagus (sering muntah)

v  Udara dingin, emosi yang berlebihan seperti marah atau ketakutan dan olahraga juga dapat mencetuskan serangan asma. Bahkan beberapa obat seperti aspirin dan obat anti inflamasi lainnya dan beta bloker juga dapat mencetuskan serangan.

Faktor Pencetus Serangan Asma

a)      Faktor penjamu, faktor pada pasien

v  Aspek genetik ( keluarga)

v  Kemungkinan alergi

v  Saluran napas yang memang mudah terangsang

v  Jenis kelamin

v  Ras/etnik

b)      Faktor lingkungan

v  Bahan-bahan di dalam ruangan :

a)      Tungau debu rumah

b)      Binatang, kecoa

v  Bahan-bahan di luar ruangan

a)      Tepung sari bunga

b)      Jamur

v  Makanan-makanan tertentu, Bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan

v  Obat-obatan tertentu

v  Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )

v  Ekspresi emosi yang berlebihan

v  Asap rokok dari perokok aktif dan pasif

v  Polusi udara dari luar dan dalam ruangan

v  Infeksi saluran napas

v  Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu.Perubahan cuac

Gejala dan Tanda

Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngikngikv(mengi) dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai factor lainnya. Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas, dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut.

Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya, pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja.

PATOFISIOLOGI

Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan oleh 1 atau lebih dari berikut ini :

1. Kontraksi otot – otot yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan napas.

2. Pembengkakan membran yang melapisi bronki.

3. Pengisian bronki dengan mukus yang kental.

Selain itu, otot – otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisma yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom.

Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan ( IgE ) kemudian menyerang sel – sel mati dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel – sel mati ( disebut mediator ) seperti Histamin, bradikinin, prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat ( SRS – A ). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa dan pembentukan mukus yang banyak.

Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergik, ketika ujung saraf pada jalan napas panjang dirangsang oleh faktor infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi.

MANIFESTASI KLINIS

Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea dan mengi. Pada beberapa keadaan, batuk merupakan satu – satunya gejala. Serangan asma sering kali terjadi pada malam hari.

Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laborius. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan menggunakan setiap otot – otot aksesories pernapasan. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum, yang terdiri atas sedikit mukus mengandungmasa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukkan dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat dan gejala – gejala retensi karbondioksida termasuk berkeringat, takikardia dan tekanan nadi.

Serangan asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Meski serangan asma jarang yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih berat, yang disebut “ status asmatikus “. Kondisi ini merupakan keadaan yang mengancam hidup.

Tata Laksana

Perlu diberikan edukasi, antara lain mengenai pathogenesis asma, peranan terapi asma, jenis-jenis terapi yang tersedia, serta faktor pencetus yang perlu dihindari. Pastikan pasien menggunakan alat untuk terapi inhalasi yang sesuai. Secara umum, terdapat dua jenis obat dalam penatalaksanaan asma, yaitu obat pengendali (controller) dan pereda (reliever). Obat pengendali merupakan profilaksis serangan yang diberikan tiap hari, ada atau tidak ada serangan/ gejala, sedangkan obat pereda adalah yang diberikan saat serangan. Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan obat pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan mengurangi pembengkakan.

Anti-asma
Obat-obatan yang masuk dalam kategori ini adalah obat-obatan yang dapat meredakan gejala asma atau sesak nafas karena asma. Aminofilin adalah salah satu obat yang banyak ditemukan sebagai anti-asma. Mekanisme mendilatasi bronkhiolus dari obat ini tetap belum diketahui. Efek samping dari obat ini terkait dengan dosis. Efek samping lain yang bias muncul adalah mual, muntah, sakit kepala, pusing, takikardi, iritabilitas neuromuscular dan kejang. Contoh sediaan dipasaran adalah asthmasoho, napasin. Selain aminofilin terdapat banyak golongan lainnya antara lain teofilin, beklometason, flusonid, salbutamol, dll. Jika pasien telah memiliki dan membawa obat asmanya sendiri lebih baik diberikan obat asma yang telah dibawanya sendiri dan digunakan sesuai petunjuk pada label yang tertera.

  1. a.      Teofilin

Teofilin di gunakan unutk mengatasi abstruksi saluran napas. Mungkin menimbulkan efek aditif bila di gunakan bersama agonis beta-2 dosis kecil, sehingga kombinasi kedua obat tersebut dapat memprbesar kemungkinan efek samping termaksud hipokalemia.

Teofilin di metabolisis di hati , dan waktu paruh eliminasinya telah di ketahui menunjukan variasi yang besar terutama pada perokok, pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau gagal jantung, atau di gunakan bersama dengan obat lain. Waktu paruh eliminasi memanjang dengan adanya gagal jantung, sirosis, infeksi virus, pada orang usia lanjut dan pemberian bersama dengan obat lain seperti simetidin, siprofloksasin, eritromisin, dan kontrasepsi oral. Waktu paruh eliminasi memendek pada perokok dan peminum alhkohol berat, dan bila di gunakan dengan oabt yang lain seperti fenition, karbarnazepin, rifampisin, dan barbitural, untuk intensitas teofilin lainnya.

Perbedaan waktu paruh antara pasienn sangat penting karena teofilin mempunyai lingkup terapi sempit, yaitu jarak antara dosis terapi dengan dosis toksik  sangat dekat. Pada kebanyakan pasien, kadar 10-20 mg/ml dalam plasma di perlukan untuk memberikan efek terapi walaupun demikian, efek samping dapat timbul pada kadar bawah 20mcg/ml, dan efek smaping semakin sering dan semakin berat pada kadar di atas 30-40mcg/ml.

Sedian teofilin lepas lambat umumnya cukup baik untuk memberikan kadar plasma cukup sampai 12 jam setelah pemberian. Bila di berikan dengan dosis tunggal pada malam hari, sedian ini sangat bermanfaat untuk mengontrol asma nocturnal dan sesak naps dini hari. Sedian ini sangat bermanfaat unutk mengontrol asma nocturnal dan sesak napas dini hari.

Teofilin dapat di berikan dengan cara injeksi dalam bentuk aminofilin, suatu campuran teofilin dengan etilendiamin, sehingga kelarutannya hingga 20 kali lebih baik di bandingkan teofilin. Aminofilin harus di berikan sebagai injeksi intavena sangat lambat, tidak dapat di berikan intramuscular karena sangat iritatif.

Aminofilin intravena telah di sepakati sebagai pengobatan serangan asma berat yang tidak berespon cepat dengan agonis beta-2 nebulizer. Pemanfaatan kadar teofilin dalam plasma akan sangat membantu terutama apabila pasien juga telah mendapatkanteofilin peroral. Efek samping serius misalnya konvulsi dan aritmia dapat terjadi sebelummenculnya gejalatoksisitas yang lain.

Aminofilin injeksi sebelumnya juga telah banyak di gunakan dalam pengobatan gagal ventrikel kiri, tetapi kemudian di geser oleh penggunaan diuretic dan analgetik opioid. Tetapi, teofilin mungkin tetap bermanfaat untuk pasien dengan gagal jantung yang mengidap asma dan bronchitis, di mana opioid merupakan kontraindinkasi, walaupun perhatian harus di berikan pada pasien dengan peningkatan eksitabilitas miokard.

  1. a.      Teofili
  • Indikasi : obstruksi jalan napas reversible asma akut berat
  • Peringatan : penyakit jantung, hipertensi, hipertiroidisme, tukuk lambung, gangguan hati (kurang dosis ), epilpesi, kehamilan dan menyusui, usia lanjut dan demam.
  • Efeksamping : takikardia, palpitasi, mual, gngguan cerna, sakit kepala, insomnia, aritmia, dan konvulsi terutama bila di berikan intravena cepat.
  • Dosis : Dewasa 130-150 mg, jika di perlukan dapat di naikan 2 kalinya, Anak 6-12 tahun : 60-150 mg, kurang dari 1 tahun : 65-75 mg, 3-4 kali sehari sesudah makan.
  • Tablet lepas lambat : 1 tablet perhari tergantung respon masing-masing dan fungsi pernapasan. Amilex (darya varia) sirup 130 mg/15 ml; tablet 150 mg. Bronchopylin (darya varia) eksir130mg/ 15ml : kapsul lnk 130 mg. Neo erkasma (erela) tableb 130 mg (T). Nutrisma (konimex) kaptah 150 mg (T). Samcolat (samco) kapsul 130 mg (T)
  1. b.      Aminofilin
  • Kombinasi teofilain dan etilendiamin yang memnyebabkan teofilin menjadi stabil dan larut dalam air
  • Indikasi : obstruksi jalan napas reversible, asma akut berat
  • Peringatan : jantung, hipertensi, hipertiroidisme, tukuk lambung, gangguan hati (kurang dosis ), epilpesi, kehamilan dan menyusui, usia lanjut dan demam.
  • Efek samping : takikardia, palpitasi, mual, gngguan cerna, sakit kepala, insomnia, aritmia, dan konvulsi terutama bila di berikan intravena cepat, alergi terhadap etilendiamin dapat menyebabkan urtikaria, aretema, dan dermatitis eksfoliatif..
  • Dosis oral 100-300 mg , 3-4 kali sehari sesudah makan.

Nama obat :

  • Aminophyline (generic) cairan Inj. 24 mg/ mt (K): tablet 150 mg, 200 mg (T)
  • Decafil (harsen) tablet Ss. 1500 mg (T)
  • Phyllocontin continus (mahakam beta Farma) tablet Lmb. 225 mg (K)
  • Konisma (konimex) kaptan 200 mg (T)

Stimulan adreneseptor beta-2 selektif (stimulan beta-2 selektif, agonis beta-2 selektif) seperti salbutamol dan terbutalin adalah stimulan beta yang paling aman dan paling efektif untuk asma. Obat-obat ini lebih di anjurkan dari pada stimulan adreneseptor beta yang kurang seleftif seperti isoprenalin atau orsiprenalin yang seharusnya di hindari sebisa mungkin.

Adrenalin (yang memiliki sifat dari stimulan adrenoseptron alfa dan beta) di gunakan dalam penanganan darurat kasus alergi dan reaksi anafilaksis.

Stimulan adreneseptor beta-2 selektif

Serangan asam ringan sampai sedang pada umumnya memberikan respon cepat terhadap pemberian aerosol stimulan adrenoseptor beta-2 selektif, seperti salbutamol atau terbutalin. Bila dalam penggunaan aerosol ini serangan masih terjadi lebih dari sekali sehari, maka di perlukan terapi profilaksis dengan menerapkan langkah-langkah seperti tercantum pada penatalaksaan Asma Kronik di Dokter Prektek umum. Untuk serangan asma yang berat di lakukan pemberian kortikosteriod oral jangka pendek agar asmanya terkontrol.

Pnegobatan pasien dengan asma akut berat atau obstruksi saluran napas lebih baik di lakukan di rumah sakit di mana sarana oksigen dan resusitasi tersedia. Pasien dengan bronchitis kronis dan emfisema, walaupun di kenal sebagai abstruksi saluran napas yang erifersibel ternyata memberikan respon varsial terhadap stimulan adrenesoptor beta-2 atau antimuskarinik ipratropium.

Pilihan obat

Ada perbedaan di antara berbagai stimulan adrenesoptor beta-2, salbotamol dan terbutalin umumnya tersedia dalam berbagai formulasi. Fenoterol sifat selektibitasnya kurang di banding salbotamol. Salmeterol dan eformeterol adalah stimulan adreneseptor beta-2 yang kerjanya lebih panajng. Di berikan secara inhalasi dengan regimen 2x/sehari. Obat ini tidak dapat di pakai untuk mengatasi serangan akut. Salmeterol atau efometerol seharusnya di gunakan sebagai tambahan pada terapi kortikosteroid, bukan unutk mengantikan kortikosteroid. Nampaknya salmeterol dan efometerol efektif untuk asma nocturnal . stimulan adrenesoptero beta-2 kerja pendek tidak boleh di resepkan secara rutin untuk pasien dengan asma ringan atau sedang karena dari berbagai uji klinik penggunaannya secara rutin tidak memberikan manfaat klinis. Tetapi stimulan adroneseptor beta-2 yang kerjanya panjang seperti salinoterol dan efometerol memberikan manfaat klinis untuk penggunaan rutin.

Salbotamol

  • Indikasi : asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran napas yang reversible
  • Peringatan : hipertiroidisme. Insufisiensi, miokard, aritmia, hipertensi, kehamilan dan menyusui, pasien usia lanjut, pemberian intravena pada pasien diabetes (perlu monitor kadar gula darah )
  • Efek samping: tremor halus (trauma tangan ), ketengan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol) , hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersinsitif termaksud bronkospasme paradox, artikaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskarinik.
  • Dosis : 4 mg (usia lanjut dan pasien yang sensitif dosis awal 2 mg) 3-4 kali sehari, dosis tunggal, maksimal 8 mg. anak di bawah 2 tahun 200 mcg/kg 4 kali sehari, 2-6 tahun 1-2 mg 3-4 kali sehari, 6-12 tahun 2 mg.
  • Injeksi subkutan atau intamuskular : 500 mcg di ulangi tiap 4 jam bila perlu.
  • Infuse intavena : awal 5 mcg/menit, lalu di sesuaikan dengan respond an denyut jantung, lazimnya antara 3-20 mcg/menit, atau lebih bila perlu.
  • Inhalasi aerosol : 100-200 mcg (hisapin). Untuk gejala yang peristen 3-4x sehari, anak 100 mcg (1 hisapan) dapat di naikan 200 mcg (2 hisapan)bila perlu.
  • Inhalasi nebulizer : untuk bronkospasme kronis yang tidak memberikan respon terhadap terapi konvensional dan untuk asma akut yan berat. Dewasa dan Anak di atas 18 bulan 2.5 mg, di berikan sampai 4 kai sehari, atau 5 kali bila perlu , tetapi terapi ini harus di pantau hasilnya, karena mungkin di perlukan alternatif terapi lain. Kemanfaatan terapi ini untuk anak kurang dari 18 bulan di ragukan.
  1. B.     ANTITUSIF

Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.

Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk.

Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan waktu. Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam 1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang. Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari). Pertusis adalah batuk kronis yang disebabkan oleh kuman Bordetella pertussis. Pertussis dapat dicegah dengan imunisasi DPT.

Penyebab batuk

Ada beberapa macam penyebab batuk :

  1. Umumnya disebabkan oleh infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu.
  2. Infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).
  3. Alergi
  4. Asma atau tuberculosis
  5. Benda asing yang masuk kedalam saluran napas
  6. Tersedak akibat minum susu
  7. Menghirup asap rokok dari orang sekitar
  8. Batuk Psikogenik. Batuk ini banyak diakibatkan karena masalah emosi dan psikologis

Rangsangan penyebab batuk bisa berasal dari lingkungan maupun penyakit. Jika penyebabnya dari lingkungan maka batuk yang terjadi adalah batuk yang berbentuk reflex mekanisme pertahanan tubuh, misalnya tersedak makanan, atau cairan, iritasi asap rokok atau kendaraan bermotor, suhu dingin ataupun panas.

Penyebab lainnya adalah penyakit yang berasal dari paru maupun dari luar paru. Penyakit paru yang menyebabkan batuk adalah infeksi (bronchitis, pneumonia, tuberkolosis) alergi (asma, reaksi alergik sistemik) dan tumor. Sedangkan penyakit diluar paru penyebabnya adalah kelainan lambung seperti refluks gastroesophageal, kelainan jantung, pemakaian obat-obatan jantung, kelainan telinga serta gangguan emosi.

Agar Anda lebih dapat mengenali jenis batuk yang Anda alami, kenali perbedaannya dari suara yang ditimbulkan.

  • Batuk rejan. Batuk yang kerap diakhiri dengan suara seperti ingin muntah ketika kita mengambil nafas. Batuk seperti ini disebabkan oleh bakteri pertussis, yang dapat menular melalui percikan cairan dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi, yang dapat keluar karena bersin, batuk, atau tertawa.
  • Batuk sesak (croup). Batuk dengan suara nafas yang keras, seperti ada lendir di dalam dada. Suara yang timbul adalah akibat dari pembengkakan di sekitar pita suara (pangkal tenggorokan) dan batang tenggorokan. Biasanya disebabkan oleh virus.
  • Batuk kering. Batuk dengan suara nyaring dan membuat perut ikut sakit, biasanya makin parah saat malam hari. Bisa disebabkan karena masuk angin, bronchiolitis, atau asma.
  • Batuk produktif/batuk basah. Batuk yang sering diiringi dengan riak atau lendir, yang biasanya disebabkan oleh infeksi atau asma.
  • Batuk bronchiolitis. Batuk yang diikuti suara nyaring seperti bersiul saat bernafas. Batuk seperti ini biasanya disebabkan infeksi virus yang terjadi pada saluran udara kecil pada paru-paru yang disebut bronchioles. Penyebab lainnya adalah asma.

Secara klinis batuk dibedakan menjadi dua golongan. Ada batuk kering yang tak disertai dengan pengeluaran lendir atau hanya sedikit lendir yang keluar. Ada pula batuk berlendir atau batuk produktif. Pada batuk produktif banyak lendir yang dikeluarkan pada saat batuk.

Saat batuk kering menyerang, penderita akan merasa sangat terganggu dan merasa sakit saat batuk, sehingga diperlukan obat untuk menekan batuknya. Obat yang dianjurkan untuk jenis batuk kering adalah obat antitusif. Sedangkan untuk batuk berlendir, disarankan pemberian obat batuk ekspektoran, yang merangsang pengeluaran lendir dan bahan iritan lainnya dari saluran napas. Jika batuk tak menghilang dalam hitungan tiga minggu, sebaiknya kunjungi rumah sakit untuk melihat kemungkinan adanya penyakit tuberkolosis, kanker paru atau penyakit lainnya.

pada intinya batuk terbagi dua; batuk kering dan batuk berlendir. Membedakan keduanya penting mengingat masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda pula. Banyak orang mengira batuk lendir dan batuk kering sama saja.

“Tapi sering masyarakat menggunakan ini keliru. Batuk berlendir dikasih untuk menekan, misalnya Kodein. Memang batuknya hilang atau jauh berkurang, tapi napas jadi sesak,” papar anggota eksekutif Asia Pacific Society of Respirology ini.

Napas sesak tersebut, katanya, disebabkan lendir yang tidak bisa keluar akibat ditekannya rangsangan batuk. Lendir yang tertahan mengganggu aliran udara pada saluran pernapasan. Batuk kering biasanya dipicu rangsangan atau iritasi yang diakibatkan debu (kendati batuk berdahak juga bisa karena iritasi, ini terjadi pada penderita alergi). Rangsangan/iritasi debu ini bisa menimbulkan efek batuk yang berlainan pada setiap orang.

Pada orang biasa, rangsangan tersebut hanya menimbulkan batuk satu-dua kali. Tapi pada penderita alergi, rangsangan ini bisa menimbulkan refleks batuk yang berkepanjangan. Pada penderita alergi, jelasnya, rangsangan tersebut menimbulkan reaksi alergik. “Akhirnya menjadi proses yang kemudian ujung-ujungnya adalah saluran pernapasan menjadi lebih basah karena produksi lendirnya lebih banyak. Dan karena produksi lendirnya banyak, refleks batuknya meningkat.

MEKANISME BATUK

Refleks batuk penting untuk kehidupan, karena batuk merupakan cara jalan ke paru dipertahankan bebas dari benda asing. Impuls aferen berasal dari jalan pernafasan, terutama melalui nervus vagus ke medulla oblongata (MO). Di sana rangkaian kejadian automatis dicetuskan oleh sirkuit neuron MO, menyebabkan efek berikut :

  1. Sekitar 2,5 liter udara diinspirasikan,
  2. Epiglotis menutup dan pita suara menutup rapat untuk menjebak udara di dalam paru-paru,
  3. Otot-otot perut berkontraksi kuat, mendorong diafagma sementara otot-otot ekspirasi lain juga berkontraksi kuat (tekanan intrapulmonal meningkat ≥ 100 mmHg),
  4. Pita suara dan epiglotis tiba-tiba terbuka lebar sehingga udara yang tertekan di dalam paru-paru meledak keluar,
  5. Kompresi kuat paru-paru juga mengempiskan bronki dan trakea, lalu benda asing keluar. (Guyton, 1995)

Obat Batuk

Batuk terdiri dari 2 jenis, yaitu batuk kering (non produktif) dan batuk berdahak (produktif). Untuk mengobati batuk tergantung dari jenis batuk yang diderita.

Obat batuk dibagi menjadi:

  1. Anti-tusif: dekstrometorfan dan difenhidramin
  2. Ekspektoran: guaifenesin, gliseril guaikolat, ammonium klorida, bromheksin dan succus liquiritiae

Antitusif digunakan untuk mengobati batuk kering, sedangkan ekspektoran untuk mengobati batuk berdahak. Antitusif bekerja dengan menekan rangsangan batuk di pusat batuk yang terletak di sumsum lanjutan (medulla), sedangkan ekspektoran bekerja dengan memperbanyak produksi dahak encer yang menyebabkan kekentalannya mengurangi sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk.

Batuk yang disebabkan karena infeksi virus biasanya akan sembuh sendiri, tetapi batuk yang merupakan gejala infeksi pernafasan karena bakteri mungkin butuh waktu lebih lama dan memerlukan tambahan obat antibiotika. Batuk jenis ini biasanya ditandai dengan dahak yang banyak, kental dan berwarna kuning kehijauan.

Sebagian besar produk obat batuk mencampurkan antara zat antitusif dan ekspektoran. Agak membingungkan memang, karena kerja kedua zat tersebut dapat dikatakan berlawanan. Hal ini mungkin didasarkan pada kenyataan bahwa walaupun batuknya berdahak, tapi kerapkali juga terlalu sering dan melelahkan pasien sehingga perlu ditekan.  Namun belakangan ini sudah mulai ada trend beberapa produsen untuk memproduksi obat batuk secara terpisah, yaitu antitusif dan ekspektoran. Untuk itu sebaiknya dipilih obat batuk yang sesuai dengan jenis batuk anda.

Antitusif

Penggunaan antitusif sebenarnya hamper tidak memberikan manfaat klinis yang lebih besar dari pada resikonya, kecuali untuk batuk kering yang sangat mengganggu tidur. Antitusif dapat mnyebabkan retensi sputum, yang justru dapat sangat berbahaya bagi pasien bronchitis kronis dan bronkiektasi. Antitusif opioid seperti seperti kodein, dekstrometorfan, dan pholeodin, kurang efektif untuk batuk yang berat dan dapat berefek konstipasi. Antihistamin sedative seperti defenhindramin yang sering di campurkan di berbagai preparat obat batuk tanpa resep selallu memberikan efek samping mengantuk. Pada anak penggunaan antitusif yang mengandung kodein atau senyawa sejenis analgesic opioid tidak di anjurkan dan harus di hindari pada anak di bawah usia 1 tahun.

Terapi Paliatif

Diamorfin dan methadone dapat di gunakan sebagai terapi paliatif untuk mengontrol batuk pada pasien dengan kanker paru- paru terminal, meskipun sekarang morfin lebih di anjurkan. Pada keadaaan lain, obat-obat ini menjadi kontaindikasi karena menginduksi retensi sputum dan gagal napas selain menyebabkan ketergantungan opioid.

Kodein Fosfat

Indukasi : untuk kering dan batuk dengan nyeri

Peringatan : asma, gngguan fungsi hati dan ginjal , rawayat penyalahgunaan obat

Interaksi : lihat lampirann I (analgesic opioid)

Kontaindikasi : batuk berdahak, penyakit hepar, gngguan ventilasi.

Efek samping : konstipasi, depresi pernapasan pada pasien yang sensitif atau pada dosis besar.

Dosis : Dewasa 10-20mg taip 4-6 jam maksimal 120 mg/hari; jarang di berikan sebagai obat batuk pada anak-anak. Anak 6-12 tahun 5-10 mg atau 0,5-1,5 mg/kg tiap 4-6 jam maksimal 60 mg/hari. 2-6 tahun 0.5-1 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 4-6 jam maksimal 30 mg/hari. Codein (generic) tablet 10 mg, 15 mg, 20 mg (N), Cordipront* (kimia farmat) kapsul: sirup (N), Cordiprontcum expectorant* (Kimia farmat) kapsul : sirup (N), Cirlitam*(Kimia farmat) tablet (N).

Obat Batuk Antitusif dikenal juga Obat batuk untuk batuk tidak berdahak (batuk kering). Obat-obat kelompok ini bekerja sentral pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk.

Antitusif

Secara umum berdasarkan tempat kerja obat, antitusif  dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang bekerja di sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan nonnarkotik

Antitusif yang bekerja di perifer

Obatgolongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di saluran napas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anestesi langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran napas

Obat-obat anestesi

Obat anestesi lokal seperti benzokain, benzilalkohol, fenol dan garam fenol digunakan dalam pembuatan lozenges. Obat ini mengurangi batuk akibat rangsang reseptor iritan di  phar,ing; tetapi hanya sedikit manfaatnya untuk mengatasi batuk akibat kelainan saluran napas bawah

Lidokain

Obat anestesi yang diberikan secara topikal seperti  tetrakain, kokain dan lidokain sangat bermanfaat dalam menghambat batuk akibat prosedur pemeriksaan bronkoskopi. Beberapa hal harus diperhatikan dalam pemakaian anestesi topikal, yaitu :

  1. Risiko aspirasi beberapa jam sesudah pemakaian obat,
  2. Diketahui kemungkinan reaksi alergi terhadap obat anestesi,
  3. Peningkatan tahanan jalan napas sesudah inhalasi zatanestesi,
  4. Risiko terjadinya efek toksis sistemik, termasuk aritmia dan kejang terutama pada penderita penyakit hati dan jantung.

 

Demulcent

Obat ini bekerja melapisi mukosa faring dan mencegah kekeringan selaput lendir. Obat ini dipakai sebagai pelarut antitusif lain atau sebagai lozenges yang mengandung madu, akasia,  gliserin dan anggur. Secara obyektif tidak ada data yang menunjukkan obat ini mempunyai efek antitusif yang bermakna, tetapi karena aman dan memberikan perbaikan subyektif obat ini banyak dipakai.

Butamirat sitrat

Obat golongan antitusif nonnarkotik yang baru diperkenalkan ini bekerja secara sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktivitas bronkospasmolitik dan aksi antiinflamasi (dikutip dari 12). Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Dalam penelitian uji klinik, obat ini mempunyai efektivitas yang sama dengan kodein dalam menekan batuk. Butamiratsitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat digunakan dalam jangka panjang tanpaefek samping dan memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital (KV) dan aman digunakan pada anak”. Dosis dewasa adalah 3 x 15 ml dan untuk anakanak umur 6 – 8 tahun 2 x 10 ml, sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2 x 15 ml

Antitusif yang dapat diperoleh tanpa resep dokter adalah :

v  dekstrometorfan HBr

Indikasi : batuk kering tidak produktif

Peringatan : kehamilan, dan menyusui, data keaman pada anak kurang kengkap

Kontraindikasi : asma, batuk produktif, gngguan fungsi hati, gangguan terhadap dektrometorfan

Efek samping : psikosis (hiperaktif dan halusinasi ) pada dosis besar, depresi pernapasan pada dosis besar, depresi pernapasan pada dosis besar

Dosis : dewasa 10-20mg taip 4-6 jam maksimal 120 mg/hari.Anak 1 mg/kg/hari dalam 3-4 dosis bagi dekrometorfan (generic) sirup 10 mg/5 ml: tablet 15 mg (T), rominal (roche Indonesia) tablet 15 mg (T), zenidex (zenith) drops 7,5 mg/5 ml; sirup 10 mg/5 ml(T)

v  Noskapin

Noskapin tidak mempunyai efek adiksi meskipun termasuk golongan alkaloid opiat. Efektivitas dalam menekan battik sebanding dengan kodein. Kadang-kadang memberikan efek samping berupa pusing, mual, rinitis, alergi akut dan konjungtivitis. Dosis dewasa 15-30 mg setiap 4- 6 jam, dosis tunggal 60 mg aman dalam menekan batuk paroksismal. Anal( berumur 2 – 12 tahun dosisnya 7,5 – 15 mg setiap 3 – 4 jam dan tidak melebihi 60 mg per hari (dikutip dari 6).

v  Difenhidramin

Obat ini termasuk golongan antihistamin, mempunyai manfaat mengurangi batuk kronik pada bronkitis. Efek samping yang dapat timbul ialah mengantuk, kekeringan mulutdan hidung, kadang-kadang menimbulkan perangsangan susunan saraf pusat. Obat ini mempunyai efek antikolinergik, karena itu harus digunakan secara hati-hati pada penderita glaukoma, retensi urin dan gangguan fungsi paru. Juga harus hati-hati bila digunakan bersama obat antikolinergik lain, penekan saraf pusat atau perangsang susunan saraf pusat. Dosis yang dianjurkan sebagai obat batuk ialah 25 mg setiap 4 jam tidak melebihi 100 mg/hari untuk dewasa. Dosis untuk anak berumur 6-12 tahun ialah 12,5 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 50 mg/hari, sedangkan untuk anak 2 – 5 tahun ialah 6,25 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 25 mg/hari (dikutip dari 6). Retensi cairan yang patologis di jalan napas disebut mukostasis. Obat-obat yang digunakan untuk mengatasi keadaan itu disebut mukokinesis. Obat mukokinetik dikelompokkan atas  beberapa golongan. Pada tabel 3 dapat dilihat penggolongan obat mukokinetik

Tabel 3. Penggolongan obat mukokinetik

Diluent Menambah jumlah cairan mukus
Surfaktan Menurunkan efek perlengketan oleh mukus
Mukolitik Memecah rantai molekul mukoprotein
Bronkomukotropik Obat yang secara langsung merangsang sekresi cair-an dan glukoprotein kelenjar bronkus
Bronkorrheik Mengeluarkan cairan dari mukosa dengan prosesosmotik atau iritasi
Ekspektorans Obat yang merangsang pengeluaran cairan danglikoprotein kelenjar bronkus secara refleks
Mukoregulator Obat yang merubah sekresi kelenjarbronkusmenjadikurang kental
Mediator otonom Perangsangan simpatomimetik atau reseptorlain yangsecara langsung mengakibatkan sel kelenjar

Antitusif adalah obat yang menekan refleks batuk, digunakan pada gangguan saluran nafas yang tidak produktif dan batuk akibat teriritasi. Secara umum berdasarkan tempat kerja obat antitusif dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang berkerja di sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik.

Antitusif yang bekerja di perifer

Obat golongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di saluran nafas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anastesi langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran nafas.

Antitusif yang bekerja sentral.

Obat ini berkerja menekan batuk dengan meninggikan ambang rangsangan yang dibutuhkan untuk merangsang pusat batuk dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik

Antitusif Non-Narkotik (Dekstrometorfan)

Obat ini tidak mempunyai efek analgesik dan ketergantungan. Obat ini efektif bila diberikan dengan dosis 30 mg setiap 4-8 jam, dosis dewasa 10-20 mg setiap 4 jam. Anak-anak umur 6-11 tahun 5-10 mg. Sedangkan anak umur 2-6 tahun dosisnya 2,5 – 5 mg setiap 4 jam.

Butamirat sitrat

Obat ini bekerja pada sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktifitas bronkospasmolitik dan aksi antiinflamasi. Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Butamirat sitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat digunakan dalam jangka panjang tanpa efek samping dan memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital dan aman digunakan pada anak. Dosis dewasa adalah 3×15 ml dan untuk anak-anak umur 6-8 tahun 2×10 ml sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2×15 ml.

Eutanasia

Posted: April 20, 2011 in Uncategorized

Eutanasia menuruit pandangan agama

  1. Agama Islam

Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut,

“Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, “Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri,” (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah “Janganlah kamu saling berbunuhan.” Dengan demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[25]

Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga. tidak diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain. Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung oleh alat penunjang kehidupan tetapi ternyata alat tersebut lebih dibutuhkan oleh orang lain atau pasien lain yang memiliki tingkat peluang hidupnya lebih besar, dan pasien tersebut keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sedangkan, kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak akan mati bila hanya dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus dimatikan.

Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan “euthanasia”, dia menjelaskan dalilnya secara umum yaitu tindakan membunuh orang dan karena faktor keputusasaan yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Dia mengungkapkan, dasar pelarangan euthanasia memang tidak terdapat secara spesifik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi. “Hak untuk mematikan seseorang ada pada Allah SWT,” ujarnya menambahkan.

  1. Kristen

Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang membantu pelaksanaan eutanasia.

Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :

  • Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya menyatakan bahwa : ” penggunaan teknologi kedokteran untuk memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga kapankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat mendukung kesempatan hidup pasien, dan kapankah batas akhir kesempatan hidup tersebut”.
  •  Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi sebagai suatu perawatan medis yang bukan merupakan suatu perawatan fundamental. Dalam kasus dimana perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tanggung jawab moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.

Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik. Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila tindakan mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk perbuatan dosa, juga dimasa depan merupakan suatu racun bagi dunia perawatan kesehatan, memusnahkan harapan mereka atas pengobatan.
Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani dalam menanggapi masalah “bunuh diri” dan “pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) adalah dari sudut “kekudusan kehidupan” sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan apapun juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebut.

Konstruksi Yuridis Euthanasia

Munculnya pro dan kontra seputar persoalan euthanasia menjadi beban tersendiri bagi
komunitas hukum. Sebab, pada persoalan “legalitas” inilah persoalan euthanasia akan
bermuara. Kejelasan tentang sejauh mana hukum (pidana) positif memberikan
regulasi/pengaturan terhadap persoalan euthanasia akan sangat membantu masyarakat
di dalam menyikapi persoalan tersebut. Lebih-lebih di tengah kebingungan kultural
karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya.
Patut menjadi catatan, bahwa secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di
Indonesia hanya dikenal satu bentuk euthanasia, yaitu euthanasia yang dilakukan atas
permintaan pasien/korban itu sendiri (voluntary euthanasia) sebagaimana secara
eksplisit diatur dalam Pasal 344 KUHP. Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan :

“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”.

Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul, bahwa pembunuhan atas

permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian,

dalam konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai
perbuatan yang dilarang. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia,
tidak dimungkinkan dilakukan “pengakhiran hidup seseorang” sekalipun atas
permintaan orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak
pidana, yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang
melanggar larangan tersebut.

materi antiasma dan antitusif

Posted: April 20, 2011 in Uncategorized

A.    ASMA

Asma adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai oleh sesak napas disertai bunyi ngikngik (mengi) dan / atau batuk persisten dimana derajat keparahan setiap orang berbeda-beda. Pada saat serangan yang terjadi adalah menyempitnya jalan napas kita akibat dari pengerutan bronkus yang menyebabkan udara sulit keluar masuk paru. Penyebab dari asma belum sepenuhnya dimengerti. Namun faktor risiko yang dapat mencetuskan timbulnya asma adalah, alergen (zat yang menyebakan alergi),infeksi, cuaca, kegiatan jasmani dan iritan. Asma tidak dapat disembuhkan, namun dapat di kontrol dengan tata laksana yang tepat. Penyebab dari asma belum sepenuhnya dimengerti , beberapa zat atau bahan yang dapat mencetuskan timbulnya serangan adalah;

v  Benda-benda dalam ruangan (tungau debu rumah dalam kasur, karpet, dan perabotan kotor dan bulu binatang)

v  Benda-benda di luar ruangan (polusi, asap buangan pabrik)

v  Asap rokok

v  Refluks gastroesofagus (sering muntah)

v  Udara dingin, emosi yang berlebihan seperti marah atau ketakutan dan olahraga juga dapat mencetuskan serangan asma. Bahkan beberapa obat seperti aspirin dan obat anti inflamasi lainnya dan beta bloker juga dapat mencetuskan serangan.

Faktor Pencetus Serangan Asma

a)      Faktor penjamu, faktor pada pasien

v  Aspek genetik ( keluarga)

v  Kemungkinan alergi

v  Saluran napas yang memang mudah terangsang

v  Jenis kelamin

v  Ras/etnik

b)      Faktor lingkungan

v  Bahan-bahan di dalam ruangan :

a)      Tungau debu rumah

b)      Binatang, kecoa

v  Bahan-bahan di luar ruangan

a)      Tepung sari bunga

b)      Jamur

v  Makanan-makanan tertentu, Bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan

v  Obat-obatan tertentu

v  Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )

v  Ekspresi emosi yang berlebihan

v  Asap rokok dari perokok aktif dan pasif

v  Polusi udara dari luar dan dalam ruangan

v  Infeksi saluran napas

v  Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu.Perubahan cuac

Gejala dan Tanda

Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngikngikv(mengi) dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai factor lainnya. Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas, dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut.

Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya, pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja.

PATOFISIOLOGI

Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan oleh 1 atau lebih dari berikut ini :

1. Kontraksi otot – otot yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan napas.

2. Pembengkakan membran yang melapisi bronki.

3. Pengisian bronki dengan mukus yang kental.

Selain itu, otot – otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisma yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom.

Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan ( IgE ) kemudian menyerang sel – sel mati dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel – sel mati ( disebut mediator ) seperti Histamin, bradikinin, prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat ( SRS – A ). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa dan pembentukan mukus yang banyak.

Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergik, ketika ujung saraf pada jalan napas panjang dirangsang oleh faktor infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi.

MANIFESTASI KLINIS

Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea dan mengi. Pada beberapa keadaan, batuk merupakan satu – satunya gejala. Serangan asma sering kali terjadi pada malam hari.

Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laborius. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan menggunakan setiap otot – otot aksesories pernapasan. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum, yang terdiri atas sedikit mukus mengandungmasa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukkan dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat dan gejala – gejala retensi karbondioksida termasuk berkeringat, takikardia dan tekanan nadi.

Serangan asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Meski serangan asma jarang yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih berat, yang disebut “ status asmatikus “. Kondisi ini merupakan keadaan yang mengancam hidup.

Tata Laksana

Perlu diberikan edukasi, antara lain mengenai pathogenesis asma, peranan terapi asma, jenis-jenis terapi yang tersedia, serta faktor pencetus yang perlu dihindari. Pastikan pasien menggunakan alat untuk terapi inhalasi yang sesuai. Secara umum, terdapat dua jenis obat dalam penatalaksanaan asma, yaitu obat pengendali (controller) dan pereda (reliever). Obat pengendali merupakan profilaksis serangan yang diberikan tiap hari, ada atau tidak ada serangan/ gejala, sedangkan obat pereda adalah yang diberikan saat serangan. Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan obat pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan mengurangi pembengkakan.

Anti-asma
Obat-obatan yang masuk dalam kategori ini adalah obat-obatan yang dapat meredakan gejala asma atau sesak nafas karena asma. Aminofilin adalah salah satu obat yang banyak ditemukan sebagai anti-asma. Mekanisme mendilatasi bronkhiolus dari obat ini tetap belum diketahui. Efek samping dari obat ini terkait dengan dosis. Efek samping lain yang bias muncul adalah mual, muntah, sakit kepala, pusing, takikardi, iritabilitas neuromuscular dan kejang. Contoh sediaan dipasaran adalah asthmasoho, napasin. Selain aminofilin terdapat banyak golongan lainnya antara lain teofilin, beklometason, flusonid, salbutamol, dll. Jika pasien telah memiliki dan membawa obat asmanya sendiri lebih baik diberikan obat asma yang telah dibawanya sendiri dan digunakan sesuai petunjuk pada label yang tertera.

  1. a.      Teofilin

Teofilin di gunakan unutk mengatasi abstruksi saluran napas. Mungkin menimbulkan efek aditif bila di gunakan bersama agonis beta-2 dosis kecil, sehingga kombinasi kedua obat tersebut dapat memprbesar kemungkinan efek samping termaksud hipokalemia.

Teofilin di metabolisis di hati , dan waktu paruh eliminasinya telah di ketahui menunjukan variasi yang besar terutama pada perokok, pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau gagal jantung, atau di gunakan bersama dengan obat lain. Waktu paruh eliminasi memanjang dengan adanya gagal jantung, sirosis, infeksi virus, pada orang usia lanjut dan pemberian bersama dengan obat lain seperti simetidin, siprofloksasin, eritromisin, dan kontrasepsi oral. Waktu paruh eliminasi memendek pada perokok dan peminum alhkohol berat, dan bila di gunakan dengan oabt yang lain seperti fenition, karbarnazepin, rifampisin, dan barbitural, untuk intensitas teofilin lainnya.

Perbedaan waktu paruh antara pasienn sangat penting karena teofilin mempunyai lingkup terapi sempit, yaitu jarak antara dosis terapi dengan dosis toksik  sangat dekat. Pada kebanyakan pasien, kadar 10-20 mg/ml dalam plasma di perlukan untuk memberikan efek terapi walaupun demikian, efek samping dapat timbul pada kadar bawah 20mcg/ml, dan efek smaping semakin sering dan semakin berat pada kadar di atas 30-40mcg/ml.

Sedian teofilin lepas lambat umumnya cukup baik untuk memberikan kadar plasma cukup sampai 12 jam setelah pemberian. Bila di berikan dengan dosis tunggal pada malam hari, sedian ini sangat bermanfaat untuk mengontrol asma nocturnal dan sesak naps dini hari. Sedian ini sangat bermanfaat unutk mengontrol asma nocturnal dan sesak napas dini hari.

Teofilin dapat di berikan dengan cara injeksi dalam bentuk aminofilin, suatu campuran teofilin dengan etilendiamin, sehingga kelarutannya hingga 20 kali lebih baik di bandingkan teofilin. Aminofilin harus di berikan sebagai injeksi intavena sangat lambat, tidak dapat di berikan intramuscular karena sangat iritatif.

Aminofilin intravena telah di sepakati sebagai pengobatan serangan asma berat yang tidak berespon cepat dengan agonis beta-2 nebulizer. Pemanfaatan kadar teofilin dalam plasma akan sangat membantu terutama apabila pasien juga telah mendapatkanteofilin peroral. Efek samping serius misalnya konvulsi dan aritmia dapat terjadi sebelummenculnya gejalatoksisitas yang lain.

Aminofilin injeksi sebelumnya juga telah banyak di gunakan dalam pengobatan gagal ventrikel kiri, tetapi kemudian di geser oleh penggunaan diuretic dan analgetik opioid. Tetapi, teofilin mungkin tetap bermanfaat untuk pasien dengan gagal jantung yang mengidap asma dan bronchitis, di mana opioid merupakan kontraindinkasi, walaupun perhatian harus di berikan pada pasien dengan peningkatan eksitabilitas miokard.

  1. a.      Teofili
  • Indikasi : obstruksi jalan napas reversible asma akut berat
  • Peringatan : penyakit jantung, hipertensi, hipertiroidisme, tukuk lambung, gangguan hati (kurang dosis ), epilpesi, kehamilan dan menyusui, usia lanjut dan demam.
  • Efeksamping : takikardia, palpitasi, mual, gngguan cerna, sakit kepala, insomnia, aritmia, dan konvulsi terutama bila di berikan intravena cepat.
  • Dosis : Dewasa 130-150 mg, jika di perlukan dapat di naikan 2 kalinya, Anak 6-12 tahun : 60-150 mg, kurang dari 1 tahun : 65-75 mg, 3-4 kali sehari sesudah makan.
  • Tablet lepas lambat : 1 tablet perhari tergantung respon masing-masing dan fungsi pernapasan. Amilex (darya varia) sirup 130 mg/15 ml; tablet 150 mg. Bronchopylin (darya varia) eksir130mg/ 15ml : kapsul lnk 130 mg. Neo erkasma (erela) tableb 130 mg (T). Nutrisma (konimex) kaptah 150 mg (T). Samcolat (samco) kapsul 130 mg (T)
  1. b.      Aminofilin
  • Kombinasi teofilain dan etilendiamin yang memnyebabkan teofilin menjadi stabil dan larut dalam air
  • Indikasi : obstruksi jalan napas reversible, asma akut berat
  • Peringatan : jantung, hipertensi, hipertiroidisme, tukuk lambung, gangguan hati (kurang dosis ), epilpesi, kehamilan dan menyusui, usia lanjut dan demam.
  • Efek samping : takikardia, palpitasi, mual, gngguan cerna, sakit kepala, insomnia, aritmia, dan konvulsi terutama bila di berikan intravena cepat, alergi terhadap etilendiamin dapat menyebabkan urtikaria, aretema, dan dermatitis eksfoliatif..
  • Dosis oral 100-300 mg , 3-4 kali sehari sesudah makan.

Nama obat :

  • Aminophyline (generic) cairan Inj. 24 mg/ mt (K): tablet 150 mg, 200 mg (T)
  • Decafil (harsen) tablet Ss. 1500 mg (T)
  • Phyllocontin continus (mahakam beta Farma) tablet Lmb. 225 mg (K)
  • Konisma (konimex) kaptan 200 mg (T)

Stimulan adreneseptor beta-2 selektif (stimulan beta-2 selektif, agonis beta-2 selektif) seperti salbutamol dan terbutalin adalah stimulan beta yang paling aman dan paling efektif untuk asma. Obat-obat ini lebih di anjurkan dari pada stimulan adreneseptor beta yang kurang seleftif seperti isoprenalin atau orsiprenalin yang seharusnya di hindari sebisa mungkin.

Adrenalin (yang memiliki sifat dari stimulan adrenoseptron alfa dan beta) di gunakan dalam penanganan darurat kasus alergi dan reaksi anafilaksis.

Stimulan adreneseptor beta-2 selektif

Serangan asam ringan sampai sedang pada umumnya memberikan respon cepat terhadap pemberian aerosol stimulan adrenoseptor beta-2 selektif, seperti salbutamol atau terbutalin. Bila dalam penggunaan aerosol ini serangan masih terjadi lebih dari sekali sehari, maka di perlukan terapi profilaksis dengan menerapkan langkah-langkah seperti tercantum pada penatalaksaan Asma Kronik di Dokter Prektek umum. Untuk serangan asma yang berat di lakukan pemberian kortikosteriod oral jangka pendek agar asmanya terkontrol.

Pnegobatan pasien dengan asma akut berat atau obstruksi saluran napas lebih baik di lakukan di rumah sakit di mana sarana oksigen dan resusitasi tersedia. Pasien dengan bronchitis kronis dan emfisema, walaupun di kenal sebagai abstruksi saluran napas yang erifersibel ternyata memberikan respon varsial terhadap stimulan adrenesoptor beta-2 atau antimuskarinik ipratropium.

Pilihan obat

Ada perbedaan di antara berbagai stimulan adrenesoptor beta-2, salbotamol dan terbutalin umumnya tersedia dalam berbagai formulasi. Fenoterol sifat selektibitasnya kurang di banding salbotamol. Salmeterol dan eformeterol adalah stimulan adreneseptor beta-2 yang kerjanya lebih panajng. Di berikan secara inhalasi dengan regimen 2x/sehari. Obat ini tidak dapat di pakai untuk mengatasi serangan akut. Salmeterol atau efometerol seharusnya di gunakan sebagai tambahan pada terapi kortikosteroid, bukan unutk mengantikan kortikosteroid. Nampaknya salmeterol dan efometerol efektif untuk asma nocturnal . stimulan adrenesoptero beta-2 kerja pendek tidak boleh di resepkan secara rutin untuk pasien dengan asma ringan atau sedang karena dari berbagai uji klinik penggunaannya secara rutin tidak memberikan manfaat klinis. Tetapi stimulan adroneseptor beta-2 yang kerjanya panjang seperti salinoterol dan efometerol memberikan manfaat klinis untuk penggunaan rutin.

Salbotamol

  • Indikasi : asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran napas yang reversible
  • Peringatan : hipertiroidisme. Insufisiensi, miokard, aritmia, hipertensi, kehamilan dan menyusui, pasien usia lanjut, pemberian intravena pada pasien diabetes (perlu monitor kadar gula darah )
  • Efek samping: tremor halus (trauma tangan ), ketengan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol) , hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersinsitif termaksud bronkospasme paradox, artikaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskarinik.
  • Dosis : 4 mg (usia lanjut dan pasien yang sensitif dosis awal 2 mg) 3-4 kali sehari, dosis tunggal, maksimal 8 mg. anak di bawah 2 tahun 200 mcg/kg 4 kali sehari, 2-6 tahun 1-2 mg 3-4 kali sehari, 6-12 tahun 2 mg.
  • Injeksi subkutan atau intamuskular : 500 mcg di ulangi tiap 4 jam bila perlu.
  • Infuse intavena : awal 5 mcg/menit, lalu di sesuaikan dengan respond an denyut jantung, lazimnya antara 3-20 mcg/menit, atau lebih bila perlu.
  • Inhalasi aerosol : 100-200 mcg (hisapin). Untuk gejala yang peristen 3-4x sehari, anak 100 mcg (1 hisapan) dapat di naikan 200 mcg (2 hisapan)bila perlu.
  • Inhalasi nebulizer : untuk bronkospasme kronis yang tidak memberikan respon terhadap terapi konvensional dan untuk asma akut yan berat. Dewasa dan Anak di atas 18 bulan 2.5 mg, di berikan sampai 4 kai sehari, atau 5 kali bila perlu , tetapi terapi ini harus di pantau hasilnya, karena mungkin di perlukan alternatif terapi lain. Kemanfaatan terapi ini untuk anak kurang dari 18 bulan di ragukan.
  1. B.     ANTITUSIF

Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.

Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk.

Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan waktu. Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam 1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang. Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari). Pertusis adalah batuk kronis yang disebabkan oleh kuman Bordetella pertussis. Pertussis dapat dicegah dengan imunisasi DPT.

Penyebab batuk

Ada beberapa macam penyebab batuk :

  1. Umumnya disebabkan oleh infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu.
  2. Infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).
  3. Alergi
  4. Asma atau tuberculosis
  5. Benda asing yang masuk kedalam saluran napas
  6. Tersedak akibat minum susu
  7. Menghirup asap rokok dari orang sekitar
  8. Batuk Psikogenik. Batuk ini banyak diakibatkan karena masalah emosi dan psikologis

Rangsangan penyebab batuk bisa berasal dari lingkungan maupun penyakit. Jika penyebabnya dari lingkungan maka batuk yang terjadi adalah batuk yang berbentuk reflex mekanisme pertahanan tubuh, misalnya tersedak makanan, atau cairan, iritasi asap rokok atau kendaraan bermotor, suhu dingin ataupun panas.

Penyebab lainnya adalah penyakit yang berasal dari paru maupun dari luar paru. Penyakit paru yang menyebabkan batuk adalah infeksi (bronchitis, pneumonia, tuberkolosis) alergi (asma, reaksi alergik sistemik) dan tumor. Sedangkan penyakit diluar paru penyebabnya adalah kelainan lambung seperti refluks gastroesophageal, kelainan jantung, pemakaian obat-obatan jantung, kelainan telinga serta gangguan emosi.

Agar Anda lebih dapat mengenali jenis batuk yang Anda alami, kenali perbedaannya dari suara yang ditimbulkan.

  • Batuk rejan. Batuk yang kerap diakhiri dengan suara seperti ingin muntah ketika kita mengambil nafas. Batuk seperti ini disebabkan oleh bakteri pertussis, yang dapat menular melalui percikan cairan dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi, yang dapat keluar karena bersin, batuk, atau tertawa.
  • Batuk sesak (croup). Batuk dengan suara nafas yang keras, seperti ada lendir di dalam dada. Suara yang timbul adalah akibat dari pembengkakan di sekitar pita suara (pangkal tenggorokan) dan batang tenggorokan. Biasanya disebabkan oleh virus.
  • Batuk kering. Batuk dengan suara nyaring dan membuat perut ikut sakit, biasanya makin parah saat malam hari. Bisa disebabkan karena masuk angin, bronchiolitis, atau asma.
  • Batuk produktif/batuk basah. Batuk yang sering diiringi dengan riak atau lendir, yang biasanya disebabkan oleh infeksi atau asma.
  • Batuk bronchiolitis. Batuk yang diikuti suara nyaring seperti bersiul saat bernafas. Batuk seperti ini biasanya disebabkan infeksi virus yang terjadi pada saluran udara kecil pada paru-paru yang disebut bronchioles. Penyebab lainnya adalah asma.

Secara klinis batuk dibedakan menjadi dua golongan. Ada batuk kering yang tak disertai dengan pengeluaran lendir atau hanya sedikit lendir yang keluar. Ada pula batuk berlendir atau batuk produktif. Pada batuk produktif banyak lendir yang dikeluarkan pada saat batuk.

Saat batuk kering menyerang, penderita akan merasa sangat terganggu dan merasa sakit saat batuk, sehingga diperlukan obat untuk menekan batuknya. Obat yang dianjurkan untuk jenis batuk kering adalah obat antitusif. Sedangkan untuk batuk berlendir, disarankan pemberian obat batuk ekspektoran, yang merangsang pengeluaran lendir dan bahan iritan lainnya dari saluran napas. Jika batuk tak menghilang dalam hitungan tiga minggu, sebaiknya kunjungi rumah sakit untuk melihat kemungkinan adanya penyakit tuberkolosis, kanker paru atau penyakit lainnya.

pada intinya batuk terbagi dua; batuk kering dan batuk berlendir. Membedakan keduanya penting mengingat masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda pula. Banyak orang mengira batuk lendir dan batuk kering sama saja.

“Tapi sering masyarakat menggunakan ini keliru. Batuk berlendir dikasih untuk menekan, misalnya Kodein. Memang batuknya hilang atau jauh berkurang, tapi napas jadi sesak,” papar anggota eksekutif Asia Pacific Society of Respirology ini.

Napas sesak tersebut, katanya, disebabkan lendir yang tidak bisa keluar akibat ditekannya rangsangan batuk. Lendir yang tertahan mengganggu aliran udara pada saluran pernapasan. Batuk kering biasanya dipicu rangsangan atau iritasi yang diakibatkan debu (kendati batuk berdahak juga bisa karena iritasi, ini terjadi pada penderita alergi). Rangsangan/iritasi debu ini bisa menimbulkan efek batuk yang berlainan pada setiap orang.

Pada orang biasa, rangsangan tersebut hanya menimbulkan batuk satu-dua kali. Tapi pada penderita alergi, rangsangan ini bisa menimbulkan refleks batuk yang berkepanjangan. Pada penderita alergi, jelasnya, rangsangan tersebut menimbulkan reaksi alergik. “Akhirnya menjadi proses yang kemudian ujung-ujungnya adalah saluran pernapasan menjadi lebih basah karena produksi lendirnya lebih banyak. Dan karena produksi lendirnya banyak, refleks batuknya meningkat.

MEKANISME BATUK

Refleks batuk penting untuk kehidupan, karena batuk merupakan cara jalan ke paru dipertahankan bebas dari benda asing. Impuls aferen berasal dari jalan pernafasan, terutama melalui nervus vagus ke medulla oblongata (MO). Di sana rangkaian kejadian automatis dicetuskan oleh sirkuit neuron MO, menyebabkan efek berikut :

  1. Sekitar 2,5 liter udara diinspirasikan,
  2. Epiglotis menutup dan pita suara menutup rapat untuk menjebak udara di dalam paru-paru,
  3. Otot-otot perut berkontraksi kuat, mendorong diafagma sementara otot-otot ekspirasi lain juga berkontraksi kuat (tekanan intrapulmonal meningkat ≥ 100 mmHg),
  4. Pita suara dan epiglotis tiba-tiba terbuka lebar sehingga udara yang tertekan di dalam paru-paru meledak keluar,
  5. Kompresi kuat paru-paru juga mengempiskan bronki dan trakea, lalu benda asing keluar. (Guyton, 1995)

Obat Batuk

Batuk terdiri dari 2 jenis, yaitu batuk kering (non produktif) dan batuk berdahak (produktif). Untuk mengobati batuk tergantung dari jenis batuk yang diderita.

Obat batuk dibagi menjadi:

  1. Anti-tusif: dekstrometorfan dan difenhidramin
  2. Ekspektoran: guaifenesin, gliseril guaikolat, ammonium klorida, bromheksin dan succus liquiritiae

Antitusif digunakan untuk mengobati batuk kering, sedangkan ekspektoran untuk mengobati batuk berdahak. Antitusif bekerja dengan menekan rangsangan batuk di pusat batuk yang terletak di sumsum lanjutan (medulla), sedangkan ekspektoran bekerja dengan memperbanyak produksi dahak encer yang menyebabkan kekentalannya mengurangi sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk.

Batuk yang disebabkan karena infeksi virus biasanya akan sembuh sendiri, tetapi batuk yang merupakan gejala infeksi pernafasan karena bakteri mungkin butuh waktu lebih lama dan memerlukan tambahan obat antibiotika. Batuk jenis ini biasanya ditandai dengan dahak yang banyak, kental dan berwarna kuning kehijauan.

Sebagian besar produk obat batuk mencampurkan antara zat antitusif dan ekspektoran. Agak membingungkan memang, karena kerja kedua zat tersebut dapat dikatakan berlawanan. Hal ini mungkin didasarkan pada kenyataan bahwa walaupun batuknya berdahak, tapi kerapkali juga terlalu sering dan melelahkan pasien sehingga perlu ditekan.  Namun belakangan ini sudah mulai ada trend beberapa produsen untuk memproduksi obat batuk secara terpisah, yaitu antitusif dan ekspektoran. Untuk itu sebaiknya dipilih obat batuk yang sesuai dengan jenis batuk anda.

Antitusif

Penggunaan antitusif sebenarnya hamper tidak memberikan manfaat klinis yang lebih besar dari pada resikonya, kecuali untuk batuk kering yang sangat mengganggu tidur. Antitusif dapat mnyebabkan retensi sputum, yang justru dapat sangat berbahaya bagi pasien bronchitis kronis dan bronkiektasi. Antitusif opioid seperti seperti kodein, dekstrometorfan, dan pholeodin, kurang efektif untuk batuk yang berat dan dapat berefek konstipasi. Antihistamin sedative seperti defenhindramin yang sering di campurkan di berbagai preparat obat batuk tanpa resep selallu memberikan efek samping mengantuk. Pada anak penggunaan antitusif yang mengandung kodein atau senyawa sejenis analgesic opioid tidak di anjurkan dan harus di hindari pada anak di bawah usia 1 tahun.

Terapi Paliatif

Diamorfin dan methadone dapat di gunakan sebagai terapi paliatif untuk mengontrol batuk pada pasien dengan kanker paru- paru terminal, meskipun sekarang morfin lebih di anjurkan. Pada keadaaan lain, obat-obat ini menjadi kontaindikasi karena menginduksi retensi sputum dan gagal napas selain menyebabkan ketergantungan opioid.

Kodein Fosfat

Indukasi : untuk kering dan batuk dengan nyeri

Peringatan : asma, gngguan fungsi hati dan ginjal , rawayat penyalahgunaan obat

Interaksi : lihat lampirann I (analgesic opioid)

Kontaindikasi : batuk berdahak, penyakit hepar, gngguan ventilasi.

Efek samping : konstipasi, depresi pernapasan pada pasien yang sensitif atau pada dosis besar.

Dosis : Dewasa 10-20mg taip 4-6 jam maksimal 120 mg/hari; jarang di berikan sebagai obat batuk pada anak-anak. Anak 6-12 tahun 5-10 mg atau 0,5-1,5 mg/kg tiap 4-6 jam maksimal 60 mg/hari. 2-6 tahun 0.5-1 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 4-6 jam maksimal 30 mg/hari. Codein (generic) tablet 10 mg, 15 mg, 20 mg (N), Cordipront* (kimia farmat) kapsul: sirup (N), Cordiprontcum expectorant* (Kimia farmat) kapsul : sirup (N), Cirlitam*(Kimia farmat) tablet (N).

Obat Batuk Antitusif dikenal juga Obat batuk untuk batuk tidak berdahak (batuk kering). Obat-obat kelompok ini bekerja sentral pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk.

Antitusif

Secara umum berdasarkan tempat kerja obat, antitusif  dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang bekerja di sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan nonnarkotik

Antitusif yang bekerja di perifer

Obatgolongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di saluran napas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anestesi langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran napas

Obat-obat anestesi

Obat anestesi lokal seperti benzokain, benzilalkohol, fenol dan garam fenol digunakan dalam pembuatan lozenges. Obat ini mengurangi batuk akibat rangsang reseptor iritan di  phar,ing; tetapi hanya sedikit manfaatnya untuk mengatasi batuk akibat kelainan saluran napas bawah

Lidokain

Obat anestesi yang diberikan secara topikal seperti  tetrakain, kokain dan lidokain sangat bermanfaat dalam menghambat batuk akibat prosedur pemeriksaan bronkoskopi. Beberapa hal harus diperhatikan dalam pemakaian anestesi topikal, yaitu :

  1. Risiko aspirasi beberapa jam sesudah pemakaian obat,
  2. Diketahui kemungkinan reaksi alergi terhadap obat anestesi,
  3. Peningkatan tahanan jalan napas sesudah inhalasi zatanestesi,
  4. Risiko terjadinya efek toksis sistemik, termasuk aritmia dan kejang terutama pada penderita penyakit hati dan jantung.

 

Demulcent

Obat ini bekerja melapisi mukosa faring dan mencegah kekeringan selaput lendir. Obat ini dipakai sebagai pelarut antitusif lain atau sebagai lozenges yang mengandung madu, akasia,  gliserin dan anggur. Secara obyektif tidak ada data yang menunjukkan obat ini mempunyai efek antitusif yang bermakna, tetapi karena aman dan memberikan perbaikan subyektif obat ini banyak dipakai.

Butamirat sitrat

Obat golongan antitusif nonnarkotik yang baru diperkenalkan ini bekerja secara sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktivitas bronkospasmolitik dan aksi antiinflamasi (dikutip dari 12). Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Dalam penelitian uji klinik, obat ini mempunyai efektivitas yang sama dengan kodein dalam menekan batuk. Butamiratsitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat digunakan dalam jangka panjang tanpaefek samping dan memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital (KV) dan aman digunakan pada anak”. Dosis dewasa adalah 3 x 15 ml dan untuk anakanak umur 6 – 8 tahun 2 x 10 ml, sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2 x 15 ml

Antitusif yang dapat diperoleh tanpa resep dokter adalah :

v  dekstrometorfan HBr

Indikasi : batuk kering tidak produktif

Peringatan : kehamilan, dan menyusui, data keaman pada anak kurang kengkap

Kontraindikasi : asma, batuk produktif, gngguan fungsi hati, gangguan terhadap dektrometorfan

Efek samping : psikosis (hiperaktif dan halusinasi ) pada dosis besar, depresi pernapasan pada dosis besar, depresi pernapasan pada dosis besar

Dosis : dewasa 10-20mg taip 4-6 jam maksimal 120 mg/hari.Anak 1 mg/kg/hari dalam 3-4 dosis bagi dekrometorfan (generic) sirup 10 mg/5 ml: tablet 15 mg (T), rominal (roche Indonesia) tablet 15 mg (T), zenidex (zenith) drops 7,5 mg/5 ml; sirup 10 mg/5 ml(T)

v  Noskapin

Noskapin tidak mempunyai efek adiksi meskipun termasuk golongan alkaloid opiat. Efektivitas dalam menekan battik sebanding dengan kodein. Kadang-kadang memberikan efek samping berupa pusing, mual, rinitis, alergi akut dan konjungtivitis. Dosis dewasa 15-30 mg setiap 4- 6 jam, dosis tunggal 60 mg aman dalam menekan batuk paroksismal. Anal( berumur 2 – 12 tahun dosisnya 7,5 – 15 mg setiap 3 – 4 jam dan tidak melebihi 60 mg per hari (dikutip dari 6).

v  Difenhidramin

Obat ini termasuk golongan antihistamin, mempunyai manfaat mengurangi batuk kronik pada bronkitis. Efek samping yang dapat timbul ialah mengantuk, kekeringan mulutdan hidung, kadang-kadang menimbulkan perangsangan susunan saraf pusat. Obat ini mempunyai efek antikolinergik, karena itu harus digunakan secara hati-hati pada penderita glaukoma, retensi urin dan gangguan fungsi paru. Juga harus hati-hati bila digunakan bersama obat antikolinergik lain, penekan saraf pusat atau perangsang susunan saraf pusat. Dosis yang dianjurkan sebagai obat batuk ialah 25 mg setiap 4 jam tidak melebihi 100 mg/hari untuk dewasa. Dosis untuk anak berumur 6-12 tahun ialah 12,5 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 50 mg/hari, sedangkan untuk anak 2 – 5 tahun ialah 6,25 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 25 mg/hari (dikutip dari 6). Retensi cairan yang patologis di jalan napas disebut mukostasis. Obat-obat yang digunakan untuk mengatasi keadaan itu disebut mukokinesis. Obat mukokinetik dikelompokkan atas  beberapa golongan. Pada tabel 3 dapat dilihat penggolongan obat mukokinetik

Tabel 3. Penggolongan obat mukokinetik

Diluent Menambah jumlah cairan mukus
Surfaktan Menurunkan efek perlengketan oleh mukus
Mukolitik Memecah rantai molekul mukoprotein
Bronkomukotropik Obat yang secara langsung merangsang sekresi cair-an dan glukoprotein kelenjar bronkus
Bronkorrheik Mengeluarkan cairan dari mukosa dengan prosesosmotik atau iritasi
Ekspektorans Obat yang merangsang pengeluaran cairan danglikoprotein kelenjar bronkus secara refleks
Mukoregulator Obat yang merubah sekresi kelenjarbronkusmenjadikurang kental
Mediator otonom Perangsangan simpatomimetik atau reseptorlain yangsecara langsung mengakibatkan sel kelenjar

Antitusif adalah obat yang menekan refleks batuk, digunakan pada gangguan saluran nafas yang tidak produktif dan batuk akibat teriritasi. Secara umum berdasarkan tempat kerja obat antitusif dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang berkerja di sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik.

Antitusif yang bekerja di perifer

Obat golongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di saluran nafas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anastesi langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran nafas.

Antitusif yang bekerja sentral.

Obat ini berkerja menekan batuk dengan meninggikan ambang rangsangan yang dibutuhkan untuk merangsang pusat batuk dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik

Antitusif Non-Narkotik (Dekstrometorfan)

Obat ini tidak mempunyai efek analgesik dan ketergantungan. Obat ini efektif bila diberikan dengan dosis 30 mg setiap 4-8 jam, dosis dewasa 10-20 mg setiap 4 jam. Anak-anak umur 6-11 tahun 5-10 mg. Sedangkan anak umur 2-6 tahun dosisnya 2,5 – 5 mg setiap 4 jam.

Butamirat sitrat

Obat ini bekerja pada sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktifitas bronkospasmolitik dan aksi antiinflamasi. Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Butamirat sitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat digunakan dalam jangka panjang tanpa efek samping dan memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital dan aman digunakan pada anak. Dosis dewasa adalah 3×15 ml dan untuk anak-anak umur 6-8 tahun 2×10 ml sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2×15 ml.

Sanitasi air

Posted: April 10, 2011 in Uncategorized

KESEHATAN LINGKUNGAN

sanitasi air kel II